Kampung Bergerak: dari Gotong Royong ke Program CSR dan Harapan Baru

Kamu pernah merasakan hangatnya lapangan kampung setelah seharian kerja bakti? Aku ingat betul aroma rumput yang baru dipangkas, bunyi canda yang mengalahkan suara gerobak, dan ibu-ibu yang sempat protes karena bajunya kotor—lalu malah tertawa bareng karena ada yang terpeleset (tenang, cuma konyol, bukan tragedi). Itu lah gambaran sederhana tentang “kampung bergerak”: ketika masyarakat turun tangan, berbaur, mengambil tanggung jawab untuk lingkungan dan kebersamaan.

Mulai dari Gotong Royong: akar yang tak boleh hilang

Gotong royong bukan sekadar membersihkan jalan atau menata taman. Lebih dari itu, ia adalah pengikat sosial—sejenis lem yang membuat tetangga tahu nama anak satu sama lain, ingat ulang tahun, bahkan pinjam panci tanpa canggung. Di kampungku, kerja bakti Minggu pagi selalu dimulai dengan kopi hitam pekat dan lontaran gosip hangat (yang selalu lucu, karena ujung-ujungnya membahas kabar ayam tetangga).

Energi yang muncul dari kebersamaan itu tidak mudah ditiru oleh program formal. Saat orang berkumpul, mereka berbagi cerita tentang masalah air, jalan berlubang, hingga anak yang kesulitan sekolah. Dari situlah muncul ide-ide sederhana: buat gotong royong pemeliharaan saluran air, kelompok bimbingan belajar, hingga posko lingkungan. Semua bermula dari kebutuhan nyata, bukan proposal yang dipaksakan.

CSR: Teman atau Penyelamat?

Beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan yang masuk kampung dengan program CSR—membangun sumur, merenovasi balai desa, atau memberikan pelatihan keterampilan. Aku punya perasaan campur aduk tentang hal ini. Di satu sisi, energi dan dana yang mereka bawa bisa mengakselerasi perubahan; di sisi lain, kadang programnya terasa seperti sekadar “one-off photo op” untuk laporan tahunan (kamu tahu, foto potong pita, senyuman terencana, lalu luntur).

Ada pula yang benar-benar serius. Mereka datang, duduk, mendengarkan, bukan hanya membagi dana lalu pergi. Kadang prosesnya panjang dan membosankan: diskusi berulang, fasilitator yang sabar, dan beberapa kali rancangan program yang harus dirombak. Tapi hasilnya juga lebih tahan lama—bukan cuma infrastruktur, tapi transfer kemampuan. Aku pernah melihat pelatihan manajemen usaha kecil yang bikin ibu-ibu kampung jadi berani menjual sambal kemasan. Mereka tertawa sendiri ketika pertama kali memasang label, karena merasa seperti pengusaha sungguhan.

Kalau kamu mau baca pendekatan lain tentang pengelolaan komunitas, ada beberapa sumber komunikasi dan manajemen yang menarik seperti comisiondegestionmx yang kadang membahas soal strategi partisipasi masyarakat. Tapi inti yang paling penting tetap: perusahaan harus hadir sebagai mitra, bukan penyelamat tunggal.

Kolaborasi yang Seimbang: bagaimana caranya?

Praktik baik yang aku lihat selalu punya beberapa kesamaan: komunitas memimpin, perusahaan mendukung, dan pemerintah memberi payung regulasi. Contoh nyatanya: program sanitasi yang dimulai dari pembuatan peta masalah oleh warga, lalu dilanjutkan pelatihan teknis oleh CSR perusahaan, dan disertai kebijakan subsidi dari pemerintah daerah. Bentuknya sederhana—rapat di balai desa, gambar papan tulis penuh coretan, dan secangkir teh yang tak pernah dingin karena diskusi terus mengalir.

Penting juga adanya transparansi anggaran dan evaluasi berkala. Jangan sampai bantuan besar datang tanpa ada control minor—berakhir jadi pagar setengah jadi atau alat yang tak terpakai. Ketika warga dilibatkan pada tiap tahap, rasa kepemilikan muncul. Mereka akan merawat fasilitas itu seolah itu benar-benar milik sendiri—karena memang demikian.

Harapan Baru: apakah gotong royong akan punah?

Jujur, aku kadang khawatir ketika melihat generasi muda yang lebih suka scrolling daripada berkebun bareng. Tapi kemudian aku ingat, gotong royong juga bisa berubah bentuk—menjadi gerakan digital yang mengkoordinasi donor, menjadi kelompok belajar online, atau komunitas yang menggalang dana lewat platform. Intinya, semangat itu tak harus selalu fisik; ia bisa beradaptasi.

Harapanku sederhana: semoga kampung-kampung kita menjadi lebih luwes menerima dukungan eksternal tanpa kehilangan nyawa komunitasnya. Perusahaan, ayo datang tidak hanya dengan sekantong dana, tetapi juga telinga. Pemerintah, berikan ruang bagi inisiatif lokal. Warga, jangan takut berinovasi. Kalau semuanya bergerak bersama—sedikit bergurau, sedikit berdebat, dan banyak bekerja—maka kampung bergerak bukan lagi slogan manis, tapi kenyataan yang hangat, berbau tanah basah, dan penuh cerita lucu yang selalu bikin pulang jadi momen terindah.