Ketika Komunitas Desa Berkolaborasi dengan CSR Perusahaan

Ketika aku pertama kali melihatnya

Aku ingat hari itu cerah, matahari sengaja menyorot seperti mendukung acara. Di lapangan desa ada tenda putih, banner perusahaan berkibar sedikit kaku, dan di depannya orang-orang berkumpul sambil memegang cangkir kopi sachet—ada yang ketawa, ada yang terlihat bingung. Aku duduk di pojok, ngerasa seperti jadi saksi reality show sosial: komunitas desa bertemu program CSR perusahaan. Jujur, hatiku campur aduk. Antara senang karena ada perhatian, dan cemas karena takut jadi panggung pencitraan.

Awal yang sederhana: apa yang benar-benar terjadi?

Kolaborasi sering dimulai dari hal yang kelihatan simpel: perbaikan jalan setapak, pembangunan posyandu, atau pemberian bibit tanaman. Tapi yang aku pelajari dari beberapa kegiatan, kunci bukan sebatas bantuan material. Saat perusahaan duduk bareng perwakilan RT, ibu-ibu PKK, dan pemuda karang taruna, suasana berubah. Ada canda, ada protes kecil—“kok gayanya gitu, Bu?”—dan ada momen ketika kepala desa mengusap dahi lelahnya lalu bilang, “Kalau begini, kami mau apa?”

Ada juga ruang yang malah jadi lucu: saat sesi foto bersama, para pejabat desa berusaha tampil profesional, sementara pemuda menirukan gaya seleb media sosial; hasilnya beberapa foto bikin semua orang ketawa, termasuk tim CSR yang biasanya rapi dan kaku.

Apa yang terjadi saat komunitas dan perusahaan bertemu?

Kalau bicara substansi, ada tiga hal yang kubawa pulang tiap kali melihat kolaborasi ini berjalan baik: keterlibatan, keberlanjutan, dan kapasitasi. Keterlibatan berarti masyarakat dilibatkan sejak perencanaan—bukan sekadar hadir waktu peresmian. Keberlanjutan muncul ketika program tidak hanya selesai dengan pembangunan fisik tapi disertai rencana pemeliharaan. Kapasitasi adalah proses menguatkan kemampuan masyarakat agar tidak bergantung terus pada donor.

Salah satu contoh yang nempel di kepala: program pengembangan pertanian organik yang awalnya berangkat dari CSR perusahaan makanan. Alih-alih memberi pupuk dan selesai, mereka mengadakan pelatihan, pendampingan teknis selama musim tanam, dan fasilitas pemasaran lokal. Yang lucu, pada awal pelatihan, beberapa petani skeptis dan bertanya, “Nanti makan apa kalau kita berhenti pakai pupuk kimia?” Ternyata setelah musim panen, selera berubah—hasil panen stabil, dan ada pembeli lokal yang antri.

Adakah risiko? Siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Ya, tentu ada risiko. Aku sering dengar kekhawatiran: program CSR bisa jadi lip service—good for PR, buruk untuk keberlanjutan. Ada juga dinamika kekuasaan: perusahaan punya dana, desa butuh; siapa yang menentukan prioritas? Di beberapa kasus, desain program datang dari kantor pusat, bukan dari kebutuhan lapangan, sehingga tidak menyentuh masalah riil seperti akses air bersih atau pendidikan anak usia dini.

Itu kenapa prinsip partisipatif penting. Ketika masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan, ketika transparansi soal anggaran dan target dipraktikkan, hasilnya akan beda. Aku pernah melihat pertemuan di mana warga menolak satu proposal karena takut lahan produktif akan dialihfungsikan. Perdebatan itu memakan waktu, tapi akhirnya muncullah solusi kompromi yang lebih adil.

Praktik yang patut dicoba (dari pengamatan aku)

Beberapa hal yang menurutku sederhana tetapi ampuh: pertama, lakukan mapping kebutuhan partisipatif—bukan sekadar survey lewat chat. Kedua, buat perjanjian tertulis soal pemeliharaan dan tanggung jawab setelah proyek selesai. Ketiga, sertakan transfer keterampilan: bukan cuma bangun, tapi ajari cara merawat dan mengelola. Keempat, ukur dampak bukan hanya dengan jumlah fasilitas yang dibangun tapi bagaimana hidup warga berubah.

Saat perusahaan dan komunitas desa bisa duduk bersama, saling mendengar tanpa pamrih, hasilnya sering mengejutkan. Aku tetap ingat suara tawa bocah yang lari-lari di sekitar kebun percontohan saat panen perdana—kelihatannya kecil, tapi itu tanda kalau ada harapan yang tumbuh bersama.

Kalau kamu bertanya padaku, kolaborasi antara komunitas desa dan CSR perusahaan itu bukan sekadar transaksi. Itu proses belajar, kadang berantakan, penuh salah paham, tapi juga berpeluang menumbuhkan sesuatu yang nyata kalau dikerjakan dengan hormat dan niat baik. Dan ya, jangan lupa sediakan kopi panas—itu pemersatu dunia, baik untuk warga desa maupun manajer CSR yang baru belajar bercanda.

Satu referensi kecil yang pernah kubaca dan memberi inspirasi tentang pengelolaan komunitas dan CSR ada di comisiondegestionmx, siapa tahu jadi tambahan bacaan berguna sebelum memulai kolaborasi di desamu.